Harum Rempah Nusantara
Di tengah harapan dan kegelisahan, bulan Juni 2024 hadir dengan kehangatan dan harapan baru yang menjadi petualangan lain dalam hidupku. Sebulan sebelumnya, di bulan Mei semua dan rutinitas dunia berputar seperti biasanya. Namun, di dalam hatiku, ada panggilan yang tak bisa diabaikan. Ketika aku melihat pengumuman tentang program Muhibah Budaya Jalur Rempah yang diselenggarakan oleh Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, perasaanku campur aduk. Inilah kesempatan yang selama ini ku impikan—menelusuri jalur sejarah dan budaya yang telah membentuk tanah air Indonesia Raya.
| di atas geladak KRI Dewaruci |
| Log Book perjalanan menjelajahi wilayah barat Nusantara |
Kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) 2024 berfokus pada konektivitas budaya Melayu, khususnya di wilayah Barat Indonesia. Aku membayangkan betapa kaya dan beragamnya budaya yang akan ku temui di setiap pelabuhan. Namun, ketegangan itu tak bisa dipungkiri. Kala itu aku tergabung dalam Batch Kayu Manis, salah satu dari tiga kelompok yang dibagi berdasarkan titik singgah. Bersama rekan-rekan hebat terpilih lainnya, kami akan menjelajahi Dumai, Sabang, Malaka, dan Tanjung Uban—empat tempat yang sarat dengan cerita dan sejarah.
Hari keberangkatan tiba (17 Juni-7 Juli 2024), dan aku dan 24 laskar rempah lainnya berdiri di pelabuhan Dumai dengan hati berdebar dan decak kagum tak henti melihat Sang Dewaruci yang akan memandu kami menjelajahi wilayah Barat Nusantara ini. Suara ombak dan riuhnya orang-orang memberi semangat tersendiri. Pelayaran dimulai dengan semangat yang menggebu. Setiap tempat singgah adalah jendela menuju masa lalu; aku melihat bagaimana sejarah terjalin di antara jalur perdagangan rempah yang telah menghubungkan berbagai suku dan budaya. Di Dumai, kami mencicipi hidangan lokal yang menggugah selera, sekaligus mendengarkan cerita dari para penduduk tentang tradisi yang telah diwariskan turun temurun. Melihat multikultural budaya yang kaya, dari tarian hingga kulinernya.
Ketika kapal merapat di Sabang, disambut dengan happening art "Pasar Abad 17" aku merasakan kehangatan sambutan yang tak terlupakan. Diajak berkeliling, aku terpesona oleh keindahan alam dan budaya yang mengalir di setiap sudut. Di sana, kami belajar tentang peranan Sabang sebagai pintu gerbang bagi para pelaut dan pedagang yang datang dari jauh. Diskusi interaktif dengan penduduk lokal membuat kami lebih memahami bagaimana rempah-rempah menjadi penghubung antarbangsa, menjalin persahabatan dan perdagangan. Tidak hanya di Sabang, kami diajak menjelajahi Banda Aceh, sebagai pusat dari Serambi Mekkah di Ujung Barat Indonesia ini.
Setiap pelabuhan yang kami kunjungi menyimpan kekayaan budaya dan tradisi yang unik. Di Malaka, kami makin terhanyut dalam sejarah kolonial yang menakjubkan, mengenang perjalanan bangsa-bangsa yang saling berinteraksi Portugis, India, Tingkok, Arab. Sementara di Tanjung Uban, kami belajar tentang upaya pelestarian budaya lokal yang dilakukan oleh generasi muda. Raja Ali Haji begitu terkenal namanya seantero Nusantara. Momen-momen ini tidak hanya memperkaya pengetahuan saya sebagai seorang guru, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta yang mendalam terhadap warisan budaya kami.
| Kota Tua Portugis di Malaka, Malaysia |
#jalurrempahri
#menujuUnesco2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar